Americano

americano-45

Seohyun SNSD || Kyuhyun Super Junior || Ficlet,Romance

“Terkadang cinta bisa saja tumbuh dari hal yang sangat sederhana”

 

Copyright, Americano by.AirinHwang© 2015, All Rights Reserved

 

.

.

.

 

Baca lebih lanjut

Iklan

Because It’s You ~1~

request-poster-choi-yoo-rin-because-it_s-you

Judul : Because It’s You

Author : Choi Yoo Rin

Cast : Seo Joohyun, Seo Jihyun (saudara kembar Seohyun), Cho Kyuhyun, Kyu-lines,  Jung Yonghwa, Song Victoria, Choi Junhee, Krystal Jung.

Genre : teenagers, school life, romance, family

PG : General

Type : chaptered

Jajbfjwhbfiwhiw *sembunyi di ketek Seohyun 😀 mianhaeee, jeongmal miaaannnnn author labil ababil ini baru bisa nongol disini… huaaaa maaf beribu maaf… author bener-bener dilanda kesibukan oleh tugas-tugas kuliah.. bener-bener nyita waktu dan pikiran.. jadi ff-ff author pada terbengkalai.. maafkan yaah.. ini author datang bawa part 1 ff yang teasernya udah keluar lama, udah lumutan, mungkin hahaha… jangan bosen-bosen yaahh mampir di wp ini..

Okelah selamat membaca, semoga kalian sukaa J

*****

Seohyun turun dari mobil ayahnya dengan lesu. Hari ini hari pertamanya masuk ke sekolah baru. Ya, Seohyun baru saja pindah ke Seoul. Selama ini ia tinggal di Busan bersama kakek dan neneknya. Namun sekarang orang tuanya mengajaknya untuk tinggal di Seoul. Seohyun baru menginjak kelas dua SMA. Dari kecil hingga kelas 1 SMA dia tinggal di Busan dan baru kali ini ke Seoul.

Seohyun memandangi halaman depan sekolah barunya.

“Hah, harus beradaptasi lagi..” keluhnya.

Krriiinggg krriiingggg bunyi bel sekolah membuat gadis itu melanjutkan langkahnya untuk masuk ke dalam.

Brruukk..

Buku-buku jatuh berserakan. Seohyun membantu seorang gadis yang baru saja menabraknya untuk mengambil buku-buku itu.

“Ini” Seohyun menyerahkan sebuah buku pada gadis itu.

“Ah ya, gomapta. Maaf tadi aku tidak sengaja menabrakmu. Aku terburu-buru.” Ucap gadis itu.

“Ne, gwaenchanayo.”

“Enggg….. kau siswa baru ya? Baru ini aku melihatmu.”

“Ne, aku pindahan dari Busan.”

“Ooo… kalau begitu kenalkan, namaku Junhee. Choi Junhee. Aku siswa kelas dua.”

“Seo Joohyun, panggil saja aku Seohyun. Aku juga kelas dua.” Jawab Seohyun sambil tersenyum.

“Jinjjayo? Kajja kita lihat papan pengumuman pembagian kelas. Siapa tau kita sekelas, Seohyun-ah!” Junhee menarik tangan Seohyun tanpa menunggu jawaban dari gadis itu. Seohyun pun hanya menurut saja dengan sedikit heran dengan kelakuan gadis yang baru dikenalnya itu.

Tiba di depan papan pengumuman, disana telah ramai siswa-siswa yang juga memiliki tujuan yang sama dengan mereka. Berhubung ini tahun ajaran baru jadi penentuan kelas baru dilakukan. Junhee menerobos kerumunan siswa-siswa untuk melihat lebih jelas ke papan pengumuman. Sedangkan Seohyun hanya menunggu di belakang para siswa-siswa yang berkerumun.

Seohyun melihat sekelilingnya, begitu banyak siswa yang berebut ingin melihat nama mereka ada di kelas mana. Kedua matanya terpaku pada seseorang di sebelah kiri yang tak jauh darinya. Orang itu sedang intens menatapnya, membuat Seohyun risih. Seohyun mengalihkan tatapannya dari orang itu.

“Seohyun-ah, kita sekelas di kelas 2 A.” Ujar Junhee yang tiba-tiba berada di depan Seohyun.

“Nde? Jinjjayo?” Junhee mengangguk mantap.

“Eee, kalau begitu kajja kita ke kelas saja.” Ajak Seohyun. Seohyun mengamit tangan Junhee, mengajak gadis itu cepat-cepat meninggalkan tempat itu. Ya, Seohyun masih risih dengan orang yang menatapnya tadi.

“Kau kenapa Seohyun-ah? Seperti ketakutan saja..” tanya Junhee saat mereka berdua sudah berada di dalam kelas 2 A.

“Nde? An, aniyo.. hanya tidak suka berada di keramaian seperti tadi.”

“Emmm…begitu yaa..”

“Junhee-ya, kau disini juga?” tanya seorang gadis yang baru masuk ke kelas 2 A itu.

“Krystal? Kau masuk kelas 2 A juga? iya aku di kelas ini.” jawab Junhee.

“Jinjjayo? Berarti kita sekelas lagi.”

“Ne. Ohya, Jung-ah kenalkan ini Seohyun dia juga di kelas ini. Baru pindah kelas 2 ini. Seohyun, kenalkan dia Krystal Jung, temanku saat kelas satu.”

“Krystal, biasa dipanggil Jung-ah oleh Junhee.” Gadis yang bernama Krystal itu mengulurkan tangannya.

“Panggil saja aku Seohyun. Senang bisa berkenalan dengan kalian.” Ucap Seohyun tulus.

*****

Tn. Seo baru saja tiba di rumahnya setelah mengantar Seohyun ke sekolah barunya.

“Bagaimana Seohyun tadi?” tanya sang istri

“Selama di perjalanan anak itu hanya diam. Mungkin masih belum bisa menerima keputusan kita.”

“Ini semua memang salahku. Wajar Seohyun kita bersikap seperti itu. Tapi sebagai ibu kandungnya, aku yakin suatu saat nanti dia pasti bisa mengerti dan menerima dengan semua keputusan yang telah kita ambil.”

“Sudahlah yeobo, jangan menyalahkan diri seperti itu. Ya benar katamu, Seohyun pasti bisa menerima jika sudah terbiasa.”

“Ah ya yeobo, aku ikut kau ke rumah sakit setelah ini ne. Pekerjaan rumah sudah selesai semua.”

“Ne, baiklah.”

Ayah Seohyun, Seo Jaebum adalah seorang dokter yang bekerja di salah satu rumah sakit di kota Seoul. Dia juga membuka praktek di rumahnya. Sedangkan ibu Seohyun, Ny. Seo Yoonmi seorang ibu rumah tangga.

“Yeobo… sepertinya kita hentikan saja usaha kita untuk Jihyun. Kau tidak kasihan melihat Jihyun yang terus menahan sakit dengan alat-alat medis itu?! Tiga tahun sudah dia seperti itu. Aku tidak tega melihatnya yang bergantung terhadap peralatan medis. Kita bawa saja Jihyun ke rumah. Kita pasrahkan semuanya pada Tuhan.”

Ny. Seo hanya diam. Sejujurnya ia membenarkan perkataan sang suami. Sebagai seorang ibu, dia juga tak tega melihat putrinya yang tersiksa menahan sakit dengan peralatan medis. Namun disisi lain ia juga masih memiliki harapan besar bahwa Jihyun nya bisa sembuh. Meski tak tahu kapan.

Tn. Seo menghembuskan nafas nya ketika melihat sang istri hanya diam. Ia tahu betul bahwa istrinya begitu menginginkan kesembuhan dari putri mereka, Jihyun.

*****

Braakk… beberapa siswa menoleh ke arah sumber suara. Namun setelah melihat siapa yang menggebrak meja kantin tersebut, para siswa itu kembali melanjutkan aktivitas makan mereka. Mereka sudah hafal betul kelakuan ‘si biang kerok’ sekolah.

“Minggir!” perintah salah satu dari empat namja yang baru datang dan menggebrak meja kantin tadi.

“Itu disana masih ada yang kosong, kenapa tidak duduk disana saja?!” tolak namja culun yang masih bertahan duduk di tempatnya.

“Kau mau melawan rupanya? Kau tidak tau siapa kami hah?”

“Sudah Minho-ya, jangan sok jago disini. Kalau dia tidak mau biarlah. Kita duduk di tempat lain saja.”

“Mwo???” heran namja yang bernama Minho saat salah satu diantara keempatnya berkata seperti itu. Empat namja yang menjadi biang kerok di sekolah itu menyingkir lalu duduk di bangku kantin yang masih kosong.

“Kyuhyun hyung kenapa kau mau mengalah dengan namja cupu itu? Berani-beraninya dia melawan kita.” Geram Minho.

“Aishh jinjja. Kau benar-benar tidak berubah Minho-ya. Kau sudah naik kelas masih saja bodoh. Ini bukan mengalah.”

“Maksudmu Changmin hyung?” Changmin memutar kedua bola matanya karena jengah. Lantas namja jangkung itu melirik ke arah namja satu lagi yang daritadi hanya diam.

“Jong, tunjukkan!” namja itu mengangguk lantas berdiri dan berjalan entah kemana.

“Mau tau maksudku tidak? Kalau iya, ikutilah Jonghyun!” perintah Changmin pada Minho. Dengan tampang penasarannya, Minho mengikuti Jonghyun. Sedangkan Changmin masih menemani Kyuhyun duduk di kantin.

“Kyu, kau tidak mau memesan makan atau minum?”

“Pesankan aku minum seperti biasa!”

“Oke”

Tak lama Changmin membawa dua gelas minuman untuk mereka berdua.

“Ku lihat sejak tadi pagi kau lebih sering melamun, Kyu. Wae? Ada masalah?”

“Hyung, bisa aku minta tolong?”

“Hahahahaha kau ini seperti kepada siapa. Ya tentu saja bisa. Apa yang bisa ku bantu?”

“Tapi ini tak begitu mudah.”

“Kau meremehkan seorang Changmin ya.” Kyuhyun menatap sejenak ke arah Changmin.

******

Tiga gadis cantik itu, Seohyun, Junhee dan Krystal baru saja kembali dari perpustakaan. Langkah ketiganya terhenti saat mendapati siswa berkerumun di dekat toilet laki-laki.

“Eh, eh ada apa ya kok rame disini?” tanya Krystal pada salah satu siswi yang sudah berada disana sebelum mereka datang.

“Biasa, Kyu-line berulah lagi.”

“Siapa korbannya?” kali ini Junhee yang angkat bicara.

“Kim Gura siswa kelas tiga A.”

“Jinjjayo? Kim Gura yang culun itu?” tanya Krystal tak percaya. Siswi tadi hanya mengangguk. Tak lama seorang siswa culun berjalan melewati ketiganya. Seohyun sudah dapat menebak bahwa siswa itulah yang menjadi objek tontonan kali ini karena penampilannya yang berantakan. Siswa itu tidak memakai celana panjang sekolahnya dan menggunakan kemeja seragam untuk menutupi bagian bawah tubuhnya.

Kerumunan tadi perlahan mulai menghilang seiring menghilangnya siswa culun tadi yang entah berjalan kemana. Seohyun dan kedua temannya melanjutkan langkah mereka ke kelas.

“Junhee-ya, memangnya Kyu-line itu siapa?” tanya Seohyun saat mereka telah berada di dalam kelas.

“Hah iya aku lupa, kau siswa baru ya disini jadi belum tau seluk beluk sekolah ini. Baiklah, akan aku jelaskan. Kyu-line itu empat anggota namja yang jadi biang onar di sekolah ini. Para Guru sudah jengah dengan sikap mereka, dan sudah sering memberi hukuman pada keempat namja itu saat mereka berulah. Tapi ya namanya juga siswa nakal, diberi hukuman skorsing justru membuat mereka senang karena bebas untuk tidak masuk sekolah. Para guru jadi kerepotan sendiri kan. Padahal dua diantara keduanya memiliki otak encer, dan orang tua dari keempatnya merupakan donatur tetap untuk yayasan sekolah kita ini. Jadi ya sayang jika mereka dikeluarkan. Selama kelakuan mereka tidak diluar batas, mereka dibiarkan berulah.”

“Misalnya kejadian tadi, biasanya Kyu-line tidak akan berbuat seperti itu pada siswa kalau siswa tersebut nggak melawan.” Tambah Krystal.

“Berarti siswa culun tadi melawan seperti itu?” tanya Seohyun.

“Ya, bisa dibilang seperti itu.”

“Emm…. memangnya seperti apa sih mereka?”

“Kyu-line terdiri dari Cho Kyuhyun anak kelas 3 C, jago matematika, suaranya merdu, putra kedua dari konglomerat Cho, dan yang paling penting dia tampan sekali. Banyak siswi-siswi disini yang suka padanya dan bahkan berani untuk mengajaknya pacaran tapi semuanya ditolak mentah-mentah. Ya, selama tiga tahun disini dia nggak pernah pacaran.” Jelas Junhee.

“Yang kedua, Shim Changmin. Anak kelas 3 C juga, masih saudara sepupu dengan Kyuhyun. Kalo nggak salah sih ibu Changmin itu kakak dari ayahnya Kyuhyun mangkanya Kyuhyun memanggil Changmin, hyung meskipun mereka sekelas. Kalo urusan cinta, namja ini masih belum diketahui secara pasti. Tapi dari gosip yang beredar, Changmin sudah punya yeojachingu dari sekolah lain.” Kali ini Krystal yang menjelaskan.

“Anggota ketiga, namja bermarga Lee. Lee Jonghyun, anggota yang juga memiliki otak encer selain Kyuhyun. Anak kelas 3 B. Putra tunggal pemilik perusahaan rekaman Lee. Paling sedikit bicara diantara keempatnya. Sama seperti Kyuhyun, banyak juga siswi yang naksir berat tapi menurut gosip sampai sekarang belum ada yang bisa meluluhkan hati seorang pangeran Lee ini.” Junhee menjelaskan sambil membayangkan sosok Lee Jonghyun.

“Hayooo, kau naksir yaa pada Jonghyun?” goda Seohyun.

“Nde? Aku? Ahahaha, aniyo… mana mungkin aku suka pada namja yang suka berbuat onar seperti itu.”

Seohyun hanya mengedikkan bahu, lalu gadis itu melirik Krystal.

“Hey, Jung-ah sekarang giliranmu untuk menjelaskan siapa anggota terakhir dari Kyu-line.” Ucap Seohyun.

“Ya ya ya, jadi anggota keempat dan terakhir dari Kyu-line itu namja paling muda kelas 2 D yang bernama Choi Minho. Paling konyol, paling bodoh diantara keempatnya tapi jago dance, jago basket. Sudah sering dia membawa nama baik sekolah kita karena kelebihannya itu. Kalo urusan cinta, dia ini terkenal paling sering gonta ganti pasangan. And you know? Terakhir aku dengar dia dekat dengan sunbae kelas 3. Menurutku sunbae itu juga sih yang agak nggak beres, didekati brondong mau.”

“Jadi seperti itu anggota Kyu-line…” gumam Seohyun.

*****

Ruangan itu begitu sunyi, hanya suara alat medis yang juga tidak begitu keras. Seorang gadis cantik terbaring lemah di ranjang ruangan itu, dengan dibalut peralatan medis untuk membantu hidup gadis itu. Terhitung sudah tiga tahun gadis itu koma dan di rawat di rumah sakit ini dengan dibantu peralatan medis.

“Annyeong Jihyun-ah.. apa kabarmu hari ini? Eomma ada berita gembira untukmu. Kau tau, kakak mu sudah mulai bersekolah di sekolah barunya setelah ikut kami ke Seoul. Mungkin pelan-pelan dia sudah bisa menerima keputusan eomma dan appa yang membawanya ke Seoul.” Wanita paruh baya itu yang tak lain adalah Ny. Seo memandang sendu ke arah putrinya yang terbaring lemah tak berdaya. Air matanya mengalir, mungkin sudah yang kesekian kalinya wanita itu menangis.

“Jihyun sayang, buka matamu nak.. eomma meridukan senyuman ceria di wajah kamu. Hikkss hikksss… eomma merindukanmu..”

Tanpa Ny. Seo sadari, dibalik pintu ruangan itu Seohyun mengamatinya. Seohyun yang tadinya ingin masuk mengurungkan niatnya melihat sang ibu yang menangis. Ia baru saja tiba di rumah sakit setelah di jemput ayahnya sepulang sekolah.

Seohyun melangkahkan kakinya menuju taman belakang rumah sakit. Ia berhenti di salah satu tempat duduk dan memutuskan untuk duduk disana. Gadis cantik itu menghela nafas. Ia lelah dengan kehidupannya. Lelah karena merasa selalu ditarik ulur oleh kedua orang tuanya. Sejak berusia dua tahun ia telah tinggal bersama kakek dan neneknya di Busan sedangkan kedua orang tuanya tinggal di Seoul bersama Jihyun, saudara kembarnya. Dan kini saat dirinya telah beranjak dewasa, kedua orang tuanya secara tiba-tiba mengajaknya untuk ikut mereka tanpa alasan yang jelas.

“Seohyun-ah.. kau disini..” Seohyun menoleh. Ia hanya tersenyum hambar setelah tau siapa yang menyapanya.

“Aku bosan di ruang inap Jihyun, Appa.”

“Kau masih marah pada appa dan juga eomma, Seohyun?”

“Bukan marah, tapi kecewa dengan keputusan sepihak kalian. Jika seperti ini aku merasa bukan putri kalian. Aku seperti tidak diinginkan ada di dunia ini.”

“Seohyun bukan seperti itu maksud kami-“

“Appa aku lelah, aku ingin pulang. Jika pekerjaan appa masih banyak, biar aku naik taksi saja, aku sudah terbiasa tanpa kalian sejak kecil. Sekaligus terbiasa untuk tidak bergantung pada orang tua.” Seohyun melangkah pergi begitu saja meninggalkan ayahnya yang diam membisu tanpa tau harus menjawab apa.

Seohyun lari keluar area rumah sakit. Gadis itu menyetop taksi lantas masuk.

“Mau kemana agassi?” tanya sopir taksi.

“Jalan saja ahjussi.”

“Ne, baiklah.”

Sepanjang perjalanan, Seohyun hanya bisa menangis. Ia terus membiarkan taksi itu membawanya entah kemana. Bukannya ia tak ingat jalan pulang, namun Seohyun masih ingin menenangkan dirinya.

*****

Kyuhyun melajukan motornya, meninggalkan rumahnya menuju tempat ia dan teman-temannya biasa berkumpul. Helm hitam, dengan tubuh yang dibalut jaket, ia terus melajukan motornya dengan kecepatan diatas rata-rata. Ya, itulah seorang Cho Kyuhyun. Selalu berbuat semuanya sendiri, tanpa memperdulikan orang lain. Entah apa yang membuat Kyuhyun menjadi seperti itu, padahal dulu saat masih kecil ia anak penurut. Namun senakal-nakalnya namja itu tidak pernah sedikitpun mempermainkan gadis, seperti yang kebanyakan dilakukan oleh namja pembangkang yang memanfaatkan gadis-gadis yang menyukainya, meniduri mereka, lalu meninggalkan mereka. Kyuhyun bukanlah tipe seperti itu. Dia juga tidak pernah menyentuh obat-obatan terlarang. Kenakalan Kyuhyun dapat dikategorikan seperti kenakalan anak kecil, yang mencari perhatian orang-orang di sekitarnya.

Kyuhyun menghentikan laju motornya secara mendadak saat mendapati seorang gadis yang meronta minta tolong karena di hadang empat preman. Kyuhyun segera turun dari motornya. Dengan sigap, namja itu melawan keempat preman yang tengah mengganggu gadis tadi.

Bughh bugghh… Kyuhyun berhasil menjatuhkan dua diantara empat preman itu.

Bughhh

“Aaaaaaaaaaa…” suara jeritan gadis tadi saat melihat Kyuhyun jatuh tersungkur setelah dipukul oleh salah satu preman. Namun Kyuhyun segera bangkit dan melawan kembali preman-preman itu.

Kyuhyun menyeka keringat di dahinya setelah berhasil membuat keempat preman itu kewalahan dan lari meninggalkannya berdua dengan gadis tadi. Ia kemudian melirik sekilas ke arah gadis yang telah ditolongnya. Matanya terpaku dengan kedua mata bulat indah milik gadis itu.

“Go, goma, gomawoyo.. jeongmal gomawo telah menolongku.” Ucap gadis itu dengan nada penuh ketakutan. Tanpa menjawab perkataan gadis itu, Kyuhyun menyetop sebuah taksi. Setelah berbicara dengan sopir taksi, ia menyuruh gadis itu untuk naik ke dalam taksi. Gadis itu hanya menurut.

Kyuhyun masih mengamati taksi itu berlalu pergi membawa gadis tadi.

“Hyuni.. kau kah itu? Apa kau sudah lupa padaku?” gumamnya.

*****

Ny. Seo mondar mandir di ruang keluarga rumahnya. Wanita paruh baya itu cemas karena putrinya belum juga pulang ke rumah hingga larut malam. Sedangkan suaminya sedang dalam perjalanan pulang dari rumah sakit setelah diberitaunya bahwa putri mereka belum juga pulang ke rumah.

Ceklek..

“Seohyun-ah.. akhirnya kau pulang juga nak. Eomma mengkhawatirkanmu. Apa kau baik-baik saja, sayang?”

“Maafkan aku eomma, aku tadi ingin jalan-jalan. Maaf tidak pamit pada eomma hingga membuat eomma khawatir.”

“Ne, gwaenchana. Lain kali bilang eomma ya biar eomma temani kau jalan-jalan. Eomma hanya takut kau kenapa-kenapa. Kau masih baru di Seoul.”

“Ne, eomma. Aku ke kamar dulu ingin membersihkan badan lalu istirahat.”

“Kau tidak makan dulu?”

“Aku kenyang, eomma.”

“Baiklah kalau begitu. Beristirahatlah. Besok kau harus bersekolah.” Seohyun mengangguk.

“Sayang..” Ny. Seo memanggil Seohyun saat gadis itu hendak naik tangga. Seohyun berbalik menatap ibunya.

“Ya, eomma?”

“Eomma ingin kau tau, bahwa eomma dan appa selalu menyayangimu dari dulu, sekarang dan seterusnya. Kami menyayangimu sama seperti kami menyayangi Jihyun.”

“Ne, arra eomma.” Seohyun melanjutkan langkahnya untuk naik menuju kamarnya.

Seohyun menjatuhkan tubuhnya di atas kasur empuk miliknya. Gadis itu mengingat kejadian yang baru saja menimpa dirinya.

TBC

Houses of God ~13~

houses-of-god

CHAPTER 13

Author : Choi Yoo Rin

Judul : Houses of God ~13~

Cast : find by your self

Genre : romance, family, sad

Type : chapter

Mian mian mian mian mian mianhae readersnim *bow bow bow .. maaf untuk keterlambatan yang super lama buat kelanjutan ff ini. Terlalu banyak hal yang menyebabkan author ngaret ngelanjutinnya. Mian… author nggak mau berharap banyak, kalian masih mau baca ff ini aja udah syukur. Semoga kalian suka part ini yaa

Happy reading J

Tok tok tok.. suara ketuk palu sidang akhir perceraian Choi Sooyoung dengan Lee Kyuhyun akhirnya menggema setelah kurang lebih satu setengah jam sidang itu berlangsung. Kedua belah pihak hadir pada sidang itu. Hakim akhirnya memutuskan bahwa setelah ketukan palu tersebut, keduanya resmi bukan suami istri lagi.

Baik Kyuhyun maupun Sooyoung sama-sama menghembuskan nafas lega mereka. Akhirnya semua selesai. Tak ada lagi yang merasa tersiksa.

Setelah berjabatan tangan dengan mantan suaminya, Sooyoung hendak keluar ruang sidang terlebih dahulu.

“Sooyoung-a, chakkaman..” Sooyoung berbalik, gadis itu tersenyum.

“Jangan bilang oppa menyesal telah bercerai denganku dan ingin rujuk.” Goda Sooyoung. Kyuhyun tersenyum.

“Sayangnya aku tidak mau berurusan dengan saudara sepupuku hanya karena berebut wanita.”

“Nde???”

“Aigo, Sooyoung-a sudahlah jangan pura-pura seperti itu. Kau pikir aku tidak tau.” Sooyoung semakin mengerutkan dahinya, tak mengerti apa yang dibicarakan oleh Kyuhyun.

“Changmin hyung sudah bicara pada haraboeji. Dia berniat untuk menikahimu.”

“Mwo??????”

“Haha sudahlah masalah itu biar Changmin sendiri yang menjelaskannya. Enggg… aku hanya ingin mengucapkan terimakasih padamu.”

“Terimakasih untuk apa oppa?”

“Terimakasih telah menjadi istri yang sabar selama ini. Terimakasih kau sudah rela menerima semuanya. Maafkan aku tidak bisa membalas kebaikanmu. Maaf atas kelakuan kasarku selama ini. Tuhan akan memberimu pengganti yang lebih baik dariku.”

Sooyoung kembali tersenyum. “Ne, oppa tenang saja. Aku pasti akan mencari pengganti yang jaauuuuuhh lebih baik dari oppa. Dan aku akan sangat menyesal telah melakukan perceraian ini jika oppa tidak bisa menemukan calon istri yang lebih baik dariku.”

Kyuhyun tersenyum menanggapinya. Ia teringat pada Joohyun.

*****

Berjalan kaki bersama, dengan saling mengaitkan tangan saat ini sedang dilakukan oleh dua anak manusia yang sedang jatuh cinta itu. Seo Joohyun dan Lee Kyuhyun, ah ani mungkin lebih tepat jika sekarang nama mereka adalah Lee Joohyun dan Cho Kyuhyun. Kyuhyun memasukkan tangan kanan Seohyun ke dalam saku jaketnya bersama tangannya juga. Seohyun menoleh.

“Mian mengajakmu keluar disaat cuaca seperti ini.” ucap Kyuhyun.

“Bohong jika aku bilang tidak apa-apa. Cuaca memang sedang tak bersahabat, tapi jujur aku senang karena melaluinya bersamamu.”

“Aigo, Joo-ku makin pintar merayu ya.” Seohyun cemberut.

“Aniyo, aku tidak sedang merayu oppa. Aku hanya mengatakan apa yang kurasakan.”

“Jinjja?” Seohyun mengangguk.

“Baiklah, aku percaya. Engg, bagaimana jika kita makan sesuatu yang hangat? Kau mau?” Seohyun kembali mengangguk.

“Kajja.”

Keduanya berhenti di depan sebuah kedai ramen.

“Kajja masuk.” Dengan masih menggandeng tangan Seohyun, Kyuhyun melangkah masuk diikuti oleh Seohyun juga.

Kyuhyun memilih tempat duduk yang di dekat jendela.

“Oppa, boleh aku tanya sesuatu?” tanya Seohyun setelah mereka memesan dua mangkuk ramen.

“Ne, boleh. Apa yang mau kau tanyakan?”

“Ini mengenai keluarga kandungmu.” Seohyun tak langsung melanjutkan ucapannya. Ia menunggu reaksi Kyuhyun.

“Oo itu. Cepat juga yang kau mengetahuinya.”

“Ani, aku belum sepenuhnya tau. Aku hanya mendengar kau baru saja melakukan tes DNA. Aku ingin mendengarnya secara langsung darimu.”

Kyuhyun mengalihkan pandangannya. Ia masih diam.

“Jika oppa keberatan tak apa, tak perlu dije-“

“Ya, aku baru saja melakukan tes DNA dengan seseorang yang mengaku sebagai keluargaku.” Kyuhyun menjeda. “Dan hasilnya positif. Aku adalah putra kandung keluarga itu.” sunyi, seperti itu keadaan setelah Kyuhyun selesai menjelaskan. Namun keadaan itu tak berlangsung lama karena seorang pelayan datang membawakan makanan pesanan mereka.

“Ja, makanlah oppa.” Kyuhyun tersenyum lantas mulai memakan ramen nya, begitupun Seohyun.

“Apapun yang terjadi, siapapun dirimu, berasal dari keluarga mana pun kamu tetaplah Kyuhyun yang sama dimataku. Kyuhyun yang aku cintai.” Seohyun menggenggam tangan Kyuhyun. “Aku akan selalu mendukung apapun keputusanmu. Apapun yang kau putuskan, aku akan tetap berada disampingmu.”

“Gomapta, Joo-ya.” Seohyun tersenyum.

*****

Seohyun turun dari taksi yang dinaikinya dari bandara tadi. Ia baru saja tiba di rumah ibu angkatnya, Ny.Seo di Jeju. Seohyun tak lantas masuk ke dalam rumah, melainkan langsung menuju kedai ikan bakar milik ibunya yang berada tak jauh dari rumah mereka.

Benar saja, sang ibu berada disana.

“Annyeong eomma.” Ny. Seo menghentikan aktivitasnya, beliau menoleh.

“Seohyun-aa..” wanita paruh baya itu langsung menghampiri Seohyun. “Ini benar kau Seohyun putriku? Aigoo… eomma benar-benar rindu padamu.” Mereka saling melepas rindu dengan berpelukan.

“Mianhamnida eomma, aku baru mengunjungimu sekarang. Jeongmal mianhae..”

“Gwaenchana. Eomma bisa mengerti kau pasti begitu sibuk di Seoul. Melihat kau sehat seperti ini saja, eomma sudah sangat senang. Kajja kajja, duduklah.”

Seohyun duduk di salah satu kursi yang ada di kedai itu.

“Eomma, kedainya sepi?”

“Aa, ne. Sepertinya orang-orang sudah bosan dengan makanan laut. Ya wajar saja, hidup dekat laut, makan pun berasal dari laut. Keunde, kau tenang saja sayang. Ini pasti hanya sementara dan mereka akan kembali suka. Kedai eomma bisa ramai lagi.”

“Eomma….”

“Nde?”

“Eomma, ikutlah denganku pindah ke Seoul. Kita tinggal disana saja eomma.”

Ny. Seo menunduk. Kemudian wanita itu pergi ke dapur, mencoba mencari sesuatu yang bisa dia kerjakan.

Seohyun berdiri dan mengikutinya.

“Eomma… eomma sudah tau kan mengenai keluarga kandungku?”

“Ne, eomma sudah mengetahuinya. Kau boleh memilih untuk tinggal disana. Bagaimanapun kau berhak untuk mendapat apa yang seharusnya kau dapat sejak dulu.”

Seohyun memeluk Ny. Seo dari samping.

“Ani, aku tidak akan tinggal bersama mereka.” Ny. Seo melepas pelukan putrinya, beliau memandang heran sang putri.

“Wae? Jangan bodoh Seohyun. Jika kau ikut mereka, hidupmu-“

“Ne arra, arra. Jika aku tinggal bersama mereka hidupku akan lebih terjamin, tak perlu bersusah-susah lagi mencari uang. Begitukan? Eomma, jebal… ikutlah denganku. Hidupku tak akan lengkap tanpamu eomma.” Ny. Seo tersenyum.

“Eomma akan tetap menjadi eommamu sayang meskipun kita tidak tinggal bersama. Kau masih bisa sering mengunjungi eomma.”

“Eomma… jebal… ikutlah denganku ke Seoul. Jika eomma masih tinggal disini, itu membuatku tak tenang.”

“Hhhhhhh…”

“Baiklah jika eomma masih bersikeras menolak. Aku juga akan tinggal disini. Aku tak akan pindah ke Seoul.”

“YA Seohyun-a!! Kau!! Hhhhh…. baik, baiklah. Eomma akan ikut denganmu.” Seohyun tersenyum senang.

*****

Dua lelaki berbeda generasi itu duduk terdiam di gazebo belakang rumah kakek Lee.

“Haraboeji…” kakek Lee menoleh pada cucu kesayangannya.

“Wae? Sepertinya ada sesuatu yang ingin kau sampaikan..”

Kyuhyun menarik nafas panjangnya sebelum menjawab pertanyaan sang kakek.

“Haraboeji, maafkan aku. Maaf atas sikapku selama ini. Terimakasih banyak karena telah memberiku kasih sayang yang begitu besar. Memberiku segala fasilitas mewah. Terimakasih. Meski pada kenyataannya aku bukanlah cucu kandungmu namun haraboeji masih mau menganggapku sebagai cucu. Jeongmal gomawoyo.” Kyuhyun berdiri, lantas berlutut di depan sang kakek. Mata namja itu mulai berkaca-kaca. Kakek Lee mengusap lembut kepala Kyuhyun.

“Haraboeji ikhlas melakukan semua itu. Haraboeji hanya ingin yang terbaik untuk cucu-cucu haraboeji. Maaf juga jika selama ini haraboeji terlalu mengekangmu.”

“Ani, haraboeji tidak perlu meminta maaf. Haraboeji tidak salah.” Kyuhyun menggenggam tangan kakek Lee.

“Haraboeji, aku…… aku telah menemukan keluarga kandungku.”

“Nde?”

“Ya haraboeji. Aku telah melakukan tes DNA dengan seorang wanita yang mengaku adalah ibuku. Dan hasilnya positif.”

“Maksudmu, kau akan pindah ke rumah mereka? Kau yakin mereka akan baik padamu? Apa anggota keluarga mereka bisa menerimamu?”

“Haraboeji…. aku tau apa yang haraboeji khawatirkan. Aku tetaplah Kyuhyun cucumu. Kau tetap kakekku sampai kapanpun. Dengan siapapun aku tinggal, ikatan kita tidak akan berubah. Jangan khawatir, mereka menerimaku karena mereka juga selama ini mencariku.”

Kakek Lee berdiri lantas pergi meninggalkan Kyuhyun tanpa menjawab perkataan sang cucu barusan. Kyuhyun hanya bisa menghela nafas. Ia sadar ini takkan mudah. Kakeknya butuh waktu untuk menerima semuanya.

Ponsel namja itu bergetar, sebuah pesan masuk. Ternyata dari Seohyun. Senyum tipis tercipta di wajah tampannya ketika menerima pesan dari gadis yang amat sangat dicintainya itu.

*****

Seohyun baru saja tiba di bandara incheon bersama ibunya. Ia berhasil membawa sang ibu untuk ikut dengannya ke Seoul. Gadis itu mencari sosok seseorang yang baru saja dikiriminya pesan singkat.

“Ah itu dia Kyuhyun oppa. Kajja eomma.” Seohyun menggandeng tangan ibunya setelah melihat siluet Kyuhyun.

“Mian, aku baru sampai. Kau sudah menunggu lama ya?” tanya Kyuhyun.

“Ani, aku dan eomma baru saja sampai.”

“Ah, annyeong eomma-ne.” Sapa Kyuhyun pada Ny. Seo.

“Ne, annyeong. Akhirnya aku bisa bertemu denganmu nak Kyuhyun. Sepanjang perjalanan, Seohyun terus bercerita tentangmu.”

“Begitukan? Aigoo, aku mendadak jadi artis kalau begitu.”

“Aiss jinjja oppa. Eomma, kenapa menceritakannya? Aah kalian ini membuatku malu saja.” Ny. Seo hanya tersenyum.

“Hahahaha…. tak usah malu begitu dihadapanku Joo-ya.. oya kalian belum makan kan? Kajja kita pulang. Haraboeji sudah menunggu di rumah.”

“Ide bagus. Kajja eomma.”

Kyuhyun membantu membawakan tas Ny. Seo.

Dalam perjalanan menuju rumah kakek Lee, Seohyun terus bercerita mengenai usahanya untuk membujuk sang ibu agar mau ikut pindah ke Seoul. Canda tawa memenuhi mobil itu.

Saat mobil Kyuhyun berhenti di lampu merah, Kyuhyun tak sengaja melihat ke arah layar tv besar yang ada di depan sebuah gedung. Dalam layar tv itu sedang disiarkan berita. Perhatian Kyuhyun terpaku pada berita tv itu.

Seohyun menyadari hal itu. “ Oppa, gwaenchana?”

“Nde? Aa, ne gwaenchana.” Tak lama lampu menyala hijau, Kyuhyun lantas melajukan kembali mobilnya. Namun pikirannya masih pada berita tadi. Seohyun juga masih merasa ada yang tak beres dengan namja yang berada di sebelahnya.

*****

Changmin bersama kedua orang tuanya sedang berada di sebuah restoran mewah di salah satu kota Seoul. Mereka telah membuat janji untuk makan malam bersama dengan keluarga dari teman ayah Changmin.

Tak berapa lama orang-orang yang mereka tunggu datang. Changmin dan kedua orang tuanya berdiri untuk menyambut orang-orang itu.

“Eoh? Oppa?” yang merasa dipanggil oppa yakni Changmin, hanya menampilkan senyumnya.

Setelah semua telah saling menyalami, mereka duduk dan memesan makanan.

“Eomma, ini sebenarnya ada apa?” tanya putri dari sahabat ayah Changmin.

“Aigo, Choi Yun tak kusangka kau mempunyai putri yang cantik.” Goda ayah Changmin pada sahabatnya yang hanya ditanggapi dengan tawa oleh semuanya.

“Sooyoung-a, appa dan eomma ingin mengenalkanmu pada putra sahabat appa. Bukankah kalian sudah saling mengenal? Bagus kalau begitu.”

“Mwo? Maksud appa?” bingung Sooyoung.

“ Jadi, kedua orang tua kita diam-diam menjodohkan kita Sooyoung-a. Ya, aku senang-senang saja karena aku memang telah menyukaimu.”

“Shireo!” semuanya menatap heran pada Sooyoung.

“Wae? Kenapa kau tidak mau?” tanya Ny. Choi.

“Pokoknya aku tidak mau, eomma appa!” Sooyoung berdiri dan hendak pergi namun Changmin menahannya.

“Sooyoung-a, chakkaman!”

“Mian oppa, tapi aku masih tidak bisa menerima perjodohan ini. ini terlalu cepat. Mian, biarkan aku pergi. Aku ingin sendiri.” Akhirnya Changmin melepaskan genggamannya pada tangan Sooyoung.

Semua yang berada disana hanya bisa menghela nafas. Tak ada seorangpun yang angkat bicara. Ny. Jaeshin selaku ibu Changmin, melirik ke arah putra semata wayangnya.

*****

Seohyun menghampiri kakeknya yang sedang duduk sendiri di balkon kamarnya.

“Haraboeji..”

“Eoh, Joohyun-a kau kemari. Sini duduklah.” Seohyun menurut. Ia duduk di kursi sebelah sang kakek.

“Haraboeji kenapa sendirian disini? Kenapa tidak ikut menonton tv di luar denganku dan Kyuhyun oppa?”

Kakek Lee tersenyum. “Bukankah kalian lebih suka dibiarkan berdua?”

“Nde? Aissh haraboeji bicara apa. Tentu saja tidak.”

“Joohyun-a..”

“Nde haraboeji?”

“Kau bahagia?”

“Tentu saja. Aku memiliki keluarga yang begitu menyayangiku, bagaimana mungkin aku tidak bahagia. Emm, memangnya kenapa haraboeji?”

“Ani, gwaenchana. Syukurlah jika kau bahagia. Haraboeji juga bahagia melihatmu seperti ini. tidak ada hal lain yang haraboeji inginkan selain melihatmu tersenyum.”

“Haraboeji…” Seohyun berdiri lantas berlutut di depan kakeknya. Digenggamnya kedua tangan sang kakek.

“Hanya ini yang bisa haraboeji lakukan untuk menebus kesalahan haraboeji di masa lalu.” Seohyun menggeleng.

“Ani, haraboeji tidak perlu melakukan apapun. Cukup haraboeji berada di sampingku itu saja sudah cukup. Aku tidak ingin kehilangan keluargaku lagi.” Kakek Lee tersenyum. Dibelainya dengan lembut kepala sang cucu.

“Kau tidak ingin melanjutkan sekolahmu?”

“Nde?”

“Haraboeji ingin cucu-cucu haraboeji mendapatkan haknya setara. Changmin dan Kyuhyun, mereka semua telah menyelesaikan study di luar negeri. Haraboeji ingin kau juga melanjutkan ke perguruan tinggi. Itu hakmu, Joohyun-a.” Seohyun diam.

“Tapi jika kau enggan, haraboeji tidak akan memaksamu. Semua terserah padamu. Haraboeji hanya ingin yang terbaik untukmu.”

“Aku mau haraboeji.”

“Jinjja?”

“Ne. Aku mau melanjutkan sekolah ke perguruan tinggi.” Kakek Lee tersenyum.

“Kau benar-benar ingin melakukannya?” Seohyun mengangguk mantap.

“Jurusan apa yang ingin kau ambil?”

“Emmm, apa boleh aku mengambil jurusan yang tidak berhubungan dengan bisnis?” tanya Seohyun ragu.

“Tentu saja boleh, sayang. Memangnya kau ingin mengambil apa?”

“Kedokteran. Aku ingin menjadi dokter, haraboeji.” Kakek Lee semakin tersenyum lebar.

“Baiklah jika itu maumu. Kau ingin melanjutkan ke perguruan tinggi mana?”

“Terserah haraboeji saja. Yang menurut haraboeji baik, akan aku ikuti.”

“Ne, baiklah. Haraboeji akan segera mengurus semua keperluannya.”

“Gamsahamnida haraboeji. Jeongmal gamsahamnida.” Seohyun memeluk kakek Lee.

*****

Kyuhyun terdiam di ruangan kerjanya. Ia telah kembali bekerja di perusahaan kakek Lee. Mata namja itu fokus dengan lembaran-lembaran dokumen di atas mejanya, namun pikirannya ada di tempat lain. Ia masih memikirkan berita yang ia lihat kemarin malam.

Namja itu menyalakan tv yang ada di ruangan kerjanya. Lagi. Berita yang sama yang langsung dilihatnya begitu layar tv menyala.

“Kegagalan proyek besar yang dialami Cho Grup berdampak pada kerugian yang saat ini dialami oleh perusahaan tersebut. Dikabarkan, harga saham perusahaan tersebut menurun drastis. Pemegang kursi CEO sementara menyatakan ia akan segera mundur dari kursi yang didudukinya saat ini. Isu yang beredar bahwa putra dari pemilik Cho Grup telah ditemukan dan akan segera menggantikan posisi CEO sementara itu.” Klik. Kyuhyun mematikan tv nya.

Hatinya bimbang. Sang kakek masih enggan mengijinkannya untuk tinggal bersama keluarga kandungnya. Namun sebagai anak kandung, ia juga ingin membantu krisis yang tengah dialami oleh keluarganya saat ini. Apalagi melihat jika keluarganya hanya terdiri dari ibu dan kakak perempuannya. Bagaimanapun juga, Kyuhyun masih memiliki hati nurani. Tidak mungkin ia membiarkan keluarganya jatuh.

Tiba-tiba ponselnya berdering.

“Yoboseyo..”

“……………….”

“Ne, jam makan siang aku akan kesana.”

“…………….”

“Ne.” Plip. Kyuhyun meletakkan kembali ponselnya diatas meja.

TBC

Dear Mom

Dear Mom

 

Written and Storyline : Airin Hwang

Featuring : Seo Joo Hyun [SNSD], Cho Kyuhyun [Super Junior]

Genre: Sad, Angst, Family┇ Rating: G┇ Length: Oneshoot (1.149 ms.word) ┇ Disclamer: This fanfiction is MINE. ┇

 copyright 2015

Eomma, aku tahu. Berapa banyak untaian kata yang keluar dari mulutku

takkan bisa membalas semua kebaikanmu. Karena dari itu

cukup satu kata untuk mewakili seluruh perasaanku,

Gomawo, eomma

–**–

 

a/n:Hellow, sebenarnya ff ini aku ingin ngepost ini di hari ibu,
tapi karena masih lama, akhirnya ku post sekarang aja. Selamat membaca 😀

 

Baca lebih lanjut

(FICLET) Secret Crush

k-ssi

Pernah baca blog saladbowl? Kalau sudah pernah mungkin aku disini aku membuat versi kecil ‘anomali’ seperti para penulis disana.

Hell yeah, akhirnya aku kembali lagi. New couple, new mind, new story. Sebenernya terserah kalian mau baca apa enggak, lagian aku juga sudah tahu kebanyakan pembaca disini adalah fans Seokyu garis keras.

“Maaf aku nggak baca ya kalo nggak seokyu.” Ya monggo, saya sebagai penulis hanya bertugas untuk menulis dan mengembangkan cerita, ketika sudah dilempar ke publik, 100% karya saya adalah milik publik dan publik berhak men-judge apapun, termasuk memilih untuk tidak membaca karya saya.

But I hope y’all will look it first.

Baca lebih lanjut